MAKALAH
TADWIN AL-HADITS ABAD KE-1 SAMPAI AWAL ABAD KE-3
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi Kitab Hadits I
Yamg
dibimbing oleh Dr.H.Kasman, M.Fil.I.
Disusun oleh:
Arifatus Soleha (U20162012)
Elma Refinda Putri (U20162033)
Wulan Fitrotil Hasanah (U20162023)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER
FAKULTAS USHULUDDIN,ADAB DAN HUMANIORA
PRODI ILMU HADITS
TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya , yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah,dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah studi kitab hadits I “Tadwin al-Hadits abad ke-1 sampai
awal abad ke-3” dengan baik.
Dalam penulisan makalah ini kami berterima kasih kepada :
1.
Bapak
Dr.H.Kasman, M.Fil.I selaku dosen pengampu mata kuliah studi kitab hadits I
semester 3.
2.
Kepada
teman-teman program study Ilmu Hadits yang telah membantu dalam hal sarana
prasarana juga dukungan motifasi dalam menyelesaikan tugas ini.
Kami menyadari dalam setiap penulisan tiada kata sempurna, kami
mohon kritik dan saran dalam hasil karya ini agar kami dapat lebih baik lagi
menulis karya ilmiah kedepannnnya.
Jember,2 September 2017
Penulis
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar.............................................................................................
Daftar
isi.......................................................................................................
Pendahuluan
a.
Latar
Belakang........................................................................................
b.
Rumusan
Masalah...................................................................................
c.
Tujuan
....................................................................................................
Pembahasan
a.
Tadwin
al-Sunnah pada masa Rasulullah SAW........................................
b.
Usaha-usaha
sahabat dalam melakukan Tadwin al-Sunnah.........................
c.
Usaha-usaha
tabi’in dalam melakukan Tadwin al-Sunnah..........................
d.
Thabaqat
al-Muhadditsin pada abad ke-2 dan awal abad ke-3 H................
e.
Perkembangan
Tadwin al-Sunnah pada abad ke-2 dan awal abad ke-3 H beserta karakteristiknya....................................................................
f.
Beberapa
penulis hadits pada abad ke-2 dan awal abad ke-3 H............
g.
Beberapa
kitab hadits pada abad ke-2 dan awal abad ke-3 H................
Penutup
a.
Kesimpulan.............................................................................................
Daftar
Pustaka..............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Hadits merupakan sumber rujukan kedua setelah Al Qur’an. Sebab,
apabila suatu hukum tidak ditemukan dalam Al Qur’an, maka solusinya adalah
mencari hukum tersebut dalam hadits-hadits Rasulullah. Pengertian dari hadits
itu sendiri adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW,
baik berupa ucapan, perbuatan atau ketetapan Beliau. Setelah Rasulullah SAW
wafat atau tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz sudah
mulai melakukan pengumpulan hadits-hadits Nabi menjadi satu kesatuan (tadwin
al-Hadits). Hal itu dilakukan oleh Muhammad bin Syihab Az-Zuhri, Abu Bakar ibn
Hazm atas dasar perintah dari khalifah Umar bin Abdul Aziz. Karena beliau (Umar
bin Abdul Aziz) sangat takut atau khawatir akan hilangnya hadits Rasulullah
bersamaan dengan meninggalnya para ulama’ yang telah hafal banyak hadits di
medan perang dan beliau juga khawatir akan adanya kemusnahan hadits seiring
dengan perkembangan zaman (adanya pemalsuan terhadap hadits Nabi).
Karena
perintah khalifah Umar bin Abdul Aziz inilah hadits-hadits Rasulullah bisa
dikumpulkan menjadi satu dan tidak hilang bersama para ulama’ yang telah
meninggal di medan perang sehingga hadits-hadits Nabi bisa sampai pada kita
sekarang.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah
Tadwin al-Sunnah pada masa Rasulullah SAW?
2.
Bagaimanakah
usaha-usaha sahabat dalam melakukan Tadwin al-Sunnah?
3.
Bagaimanakah
usaha-usaha tabi’in dalam melakukan Tadwin al-Sunnah?
4.
Bagaimanakah
thabaqat Muhadditsin pada abad ke-2 dan awal abad ke-3H?
5.
Bagaimanakah
perkembangan Tadwin al-Sunnah pada abad ke-2H dan awal abad ke-3H beserta
karakteristiknya?
6.
Siapa
sajakah para penulis hadits pada abad ke-2H dan awal abad ke-3H?
7.
Kitab
hadits apa sajakah yang telah ada pada abad ke-1 sampai awal abad ke-3H?
1.3
Tujuan Penulisan
1.
Untuk
mengetahui Tadwin al-Sunnah pada masa Rasulullah SAW.
2.
Untuk
mengetahui usaha-usaha yang dilakukan oleh para sahabat dalam melakukan Tadwin
al-Sunnah.
3.
Untuk
mengetahui usaha-usaha yang dilakukan oleh para tabi’in dalam melakukan Tadwin
al-Sunnah.
4.
Untuk
mengetahui thabaqat al-Muhadditsin pada abad ke-2 H dan awal abad ke-3 H.
5.
Untuk
mengetahui perkembangan Tadwin al-Sunnah pada abad ke-2 H dan awal abad ke-3 H
beserta karakteristiknya.
6.
Untuk
mengetahui beberapa penulis hadits pada abad ke-2 H dan awal abad ke-3 H.
7.
Untuk
mengetahui beberapa kitab hadits pada abad ke-2 H dan awal abad ke-3 H.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Tadwin al-Sunnah pada masa Rasulullah SAW
Rasulullah SAW benar-benar
memperhatikan, menggerakkan dan memberikan motivasi serta mensosialisasikan
baca tulis dikalangan sahabat. Hal itu terlihat jelas dalam sejarah perang
Badar, dimana usaha kearah itu beliau wujudkan dengan memutuskan orang-orang
kafir yang menjadi tawanan perang yang bisa membaca dan menulis dapat
memperoleh kebebasan dirinya dengan syarat, tiap-tiap satu orang tawanan harus
mengajar membaca dan menulis sampai mahir kepada sepuluh orang dari putra-putra
orang Islam di Madinah. Dan Rasulullah SAW juga mengangkat para penulis dari
kalangan sahabat untuk menulis ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan dan untuk
menulis surat-surat beliau yang dikirim kepada raja-raja untuk kepentingan
dakwah Islam.
Sehubungan dengan perintah
Rasulullah SAW untuk menulis ayat-ayat Al-Qur’an , Beliau melarang menulis
hadits karena khawatir akan adanya perubahan-perubahan dan akan bercampur-aduk
dengan Al-Qur’an. Rasulullah SAW melarang para sahabat menulis hadits dan
membukukannya sampai pada masa dimana Al-Qur’an telah terkodifikasi dengan baik
dan para penghafal Al-Qur’an telah lekat hafalannya, sehingga ucapan-ucapan dan
pendengarannya terhadap Al-Qur’an sudah mantap dan mampu membedakan mana
Al-Qur’an dan mana yang bukan, yang karenanya tidak ada lagi kekhawatiran akan
bercampurnya lafadz-lafadz Al-Qur’an dengan hadits.
Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan
dari Nabi SAW, beliau bersabda:
لاَ
تَكْتُبُوْا عَنِّي غَيْرَ الْقُرْاَنِ وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي شَيْئًا غَيْرَ
الْقُرْاَنِ فَلْيَمْحُهُ وَحَدِّثُوْا عَنِّي فَلاَ حَرَجَ وَمَنْ كَذَّبَ
عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّءْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Jangan kamu sekalian menulis
sesuatu dariku selain Al-Qur’an. Barangsiapa menulis sesuatu dariku selain
Al-Qur’an maka hapuslah. Ceritakan saja yang diterima dariku. Barang siapa yang
berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaknya ia menempati tempat duduknya di
neraka” (HR. Muslim dan Abu Sa’id Al-Khudry)[1]
Sekalipun ada larangan Rasulullah
SAW untuk menulis hadits seperti yang telah di sebutkan dalam hadits diatas,
ternyata ada sejumlah sahabat yang memiliki catatan-catatan hadits, diantara
mereka adalah:
·
Abdullah
bin Amr bin Ash. Ia memiliki catatan hadits yang menurut pengakuannya
dibenarkan oleh Rasulullah SAW. Menurut suatu riwayat, diceritakan bahwa
orang-orang Quraisy mengkritik sikap Abdullah bin Amr bin Ash yang menulis apa
yang datang dari Rasulullah SAW dan mereka berkata “Engkau menuliskan apa
saja yang datang dari Rasul, padahal Rasul itu manusia yang bisa saja bicara
dalam keadaan marah”. Kritikan ini disampaikannya kepada Rasulullah SAW,
maka beliau bersabda:
اُكْتُبْ فَوَالّذِيْ
نَفْسِي بِيَدِهِ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ اِلَّا الْحَقُّ
“Tulislah! Demi Dzat yang diriku berada di
tangan-Nya, tidak ada yang keluar darinya kecuali yang benar” (HR Bukhori)
Hadits-hadits yang terhimpun dalam catatannya berkisar sekitar
seribu hadits yang menurut pengakuannya diterima langsung oleh Rasulullah SAW
yaitu ketika ia berada di sisi Rasulullah tanpa ada orang lain yang
menemaninya.
·
Jabir
bin Abdillah bin Amr Al-Anshari. Ia memiliki catatab hadits dari Rasulullah SAW
tentang manasik haji
·
Abu
Hurairah
·
Abu
Syah (seorang penduduk Yaman)
Selain nama-nama tersebut, masih banyak para sahabat lainnya yang
memiliki catatan hadits dan dibenarkan oleh Rasulullah, seperti Rafi’i bin
Khadij Amr bin Hazm, Ali bin Abi Thalib dan Ibn Mas’ud.[2]
2.2
Usaha-usaha sahabat dalam melakukan Tadwin al-Sunnah
Kehati-hatian
dan usaha membatasi periwayatan dan penulisan hadits yang dilakukan oleh para
sahabat, disebabkan karena mereka khawatir terjadinya kekeliruan dan kebohongan
atas nama Rasul SAW. Oleh karena itu, para sahabat khususnya khulafa’ur
rasyidin dan sahabat lainnya seperti Zubair, Ibn Abbas, dan Abu Ubaidah berusaha
memperketat periwayatan, penulisan dan penerimaan hadits.
Abu Bakar dan
Umar bin Khattab sangat berhati-hati dalam menerima hadits. Mereka tidak
menerima hadits jika tidak disaksikan benarnya oleh seorang yang lain. Akan
tetapi walaupun Abu Bakar amat ketat dalam periwayatan hadits,beliau tidak anti
terhadap penulisan hadits. Bahkan untuk kepentingan tertentu, hadits Nabi juga
di tulisnya. Umar bin Khattab terus menerus mempertimbangkan penulisan hadits,
padahal sebelumnya ia berniat untuk mencacatnya. Sikap kehati-hatian kedua
sahabat tersebut, juga diikuti oleh Ustman dan Ali. Dalam sebuah atsar
disebutkan bahwa Ali ra tidak menerima hadits sebelum yang meriwayatkan itu
disumpah.
Pada masa
sahabat ini, belum ada usaha secara resmi untuk menghimpun hadits dalam satu
kitab seperti halnya Al-Qur’an, hal ini disebabkan karena:
Ø Agar tidak memalingkan perhatian umat Islam dalam mempelajari
Al-Qur’an.
Ø Para sahabat yang banyak menerima hadits dari Rasulullah SAW sudah
tersebar ke berbagai daerah kekuasaan Islam, dengan kesibukan masing-masing
sebagai pembina masyarakat, sehingga ada kesulitan mengumpulkan mereka secara
lengkap.
Ø Soal pembukuan hadits dikalangan sahabat sendiri masih terjadi
perselisihan pendapat. Belum lagi terjadinya perselisihan soal lafadz dan
keshahihannya.[3]
2.3
Usaha-usaha tabi’in dalam melakukan Tadwin al-Sunnah
Setelah Islam tersebar dan wilayah
Islam semakin luas (yakni ke sampai ke negeri Syam, Iraq, Mesir dan Samarkand),
tersiarlah bid’ah-bid’ah. Para sahabat terpencar di beberapa kota dan banyak
diantara mereka yang meninggal dunia dalam peperangan dan lain sebagainya, maka
hafalan dan daya ingatan terhadap hadits, hampir berkurang dan melemah. Keadaan
yang demikian menuntut adanya pembukuan dan penulisan hadits secara menyeluruh.
Oleh karena itu, pada abad pertama (100 H) Amirul Mu’minin Umar bin Abdul Aziz
mengirim surat kepada Gubernur Madinah (yakni Abu Bakar ibn Muhammad ibn Amr
ibn Hazmin). Selanjutnya, Umar bin Abdul Aziz memerintahkan kepada Abu Bakar
ibn Muhammad untuk menulis dan membukukan hadits-hadits yang ada pada penghafal
wanita yang terkenal yaitu Amrah binti Abdur Rahman bin Sa’ad Al-Anshariyah (murid
kepercayaan Siti Aisyah dan seorang yang ahli fiqh) dan hadits-hadits yang ada
pada Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar As-Shiddieq (seorang pemuka tabi’in dan
salah seorang fuqaha’ Madinah). Dia juga mengirim surat kepada
pejabat-pejabatnya di beberapa pusat kota Islam untuk membukukan hadits yang
ada pada ulama’ yang tinggal di wilayah mereka masing-masing. Diantara ulama’
besar yang membukukan hadits atas kemauan Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah Abu
Bakar Muhammad binMuslim bin Ubaidillah bin Shihab Az-Zuhri (seorang tabi’in
yang ahli dalam urusan fiqh dan hadits) yang dinilainya sebagai seorang yang
lebih banyak mengetahui hadits.[4]
Kitab hadits yang ditulis oleh Ibn
Hazm, merupakan kitab hadits pertama yang ditulis atas perintah Khalifah dan
kitab itu tidak membukukan seluruh hadits yang ada di Madinah. Pembukuan
seluruh hadits yang ada di Madinah dilakukan oleh Imam Muhammad bin Muslim bin
Syihab Az-Zuhri. Setelah itu, para ulama’ besar berlomba-lomba membukukan
hadits atas anjuran Abu ‘Abbas As-Saffah, akan tetapi tidak dapat diketahui
lagi siapakah ulama’ yang mula-mula membukukan hadits sesudah Az-zuhri karena
ulama’ yang datang sesudah Az-zuhri seluruhnya hidup pada satu zaman.
Para tabi’in abad kedua membukukan
hadits tanpa menyaringnya, yakni mereka tidak hanya membukukan hadits-hadits
saja akan tetapi fatwa-fatwa para sahabat pun dimasukkah kedalam bukunya. Oleh
karena itu, dalam kitab-kitab itu terdapat hadits marfu’, hadits mauquf dan
hadits maqthu’.[5]
Dalam hal penghimpunan hadits pada
periode pertama itu, al-Hafidz As-Syuyuthi menegaskan:
اَوَّلُ
جَامِعًا لِحَدِيْثٍ وَاْلاَثَرِ اِبْنُ
شِهَابٍ اَمِرًا لَهُ عَمْرًا
“Orang
yang pertama mengimpun hadits dan atsar ialah Ibn Syihab atas perintah Umar bin
Abdul Aziz”.
2.4
Thabaqat Al-Muhadditsin abad II H dan awal abad III H
Hampir semua ahli hadits sepakat bahwa
thabaqat ialah sekumpulan orang yang
sebaya dalam usia dan dalam menemukan
guru. Para rawi dibagi dalam beberapa thabaqat. Diantara para ahli ada
yang memasukkan seluruh sahabat kedalam suatu kelompok thabaqat, lalu tabi’in
pada thabaqah kedua, lalu orang-orang setelah mereka pada thabaqah ketiga.
Pembagian ini berpengang pada sabna Nabi Saw, “ kurun yang paling baik adalah
kurunku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang sesudah
mereka”. Rasulallah SAW menyebutkan dua atau tiga kurun lagi sesudah kurun
beliau.
Para ulama memberikan definisi bahwa
tabi’in ialah orang yang pernah bertemu dengan sahabat dan beriman kepada Nabi SAW, serta meninggal
dunia dalam keadaan beriman kepada Islam. Tentang hal ini Al-Khatib al-Baghddi
mensyaratkan adanya persahabatan dengan sahabat, jadi bukan hanya bertemu. Hadist
memberikan ke saksian tentang keutamaan Thabqat
ini.
Rasullah
bersabda : “ Berbahagialah orang-orang yang melihatku”. Beliau juga bersabda:”Kurun
terbaik adalah kurunku, kemudian orang orang sesudah mereka”.
Menurut Al-Hakim masa thabaqat tabi’in
berakhir setelah orang yang bertemu
dengan sahabat yang terakhir meninggal dunia. Jadi, tabi’in terakhir
adalah orang yang bertemu dengan Abu
Thufail di Mekkah. As-Sa’ib diMadinah, Abu Umayyah di Syam,Ubaidillah bin Abi Aufa
di Kufah, dan Anas bin Malik di Basrah.
Khalaf bin Khalifah yang wafat pada
tahun 181 H dianggap sebagai tabi’in
yang terakhir meninggal dunia. Karena di Makkah ia bertemu dengan seorang sahabat yang paling akhir wafat,
yaitu Abu Thufail Amir bin Watsilah. Dengan ini, dapat dikatakan bahwa periode
tabi’in berakhir pada tanun 181 H.[6]
2.5
Perkembangan Tadwin Sunnah
pada abad II H dan awal abad III beserta karakteristiknya
Pada abad ke-II ini, para ulama’ dalam
aktivitas kodifikasi hadits tidak melakukan penyaringan dan pemisahan, mereka
tidak membukukan hadits-hadits saja tetapi fatwa sahabat dan tabi’in juga dimasukan
kedalam kitab kitab mereka.
Pada abad ke-II ini ulama’ yang berhasil
menyusun kitab Tadwin dan sampai pada kita adalah Imam Malik bin Anas(93 samapi
179 H) yang menyusun kitab Al-Muwattha’. Kitab ini tidak hanya memuat hadist
Rasul saja, tetapi juga ucapan sahabat dan tabi’in, bahkan tidak sedikit yang
berupa pendapat Imam Malik sendiri atau praktik ulama dan masyarakat Madinah.
Menurut Hasbi ash-Shiddieqy, di antara kitab-kitab abad ke II ini yang mendapat
perhatian umum ulama’ adalah Al-Muwattha’
karya Imam Malik, Al-Musnad, Mukhtalif al-hadits susunan Imam Syafi’i dan Al
Maghazi wa al-Siyar yang terkenal dengan A- Siah an Nabawiyah karya Muhammad
bin Ishaq. Meskipun pada abad ke II ini hadits tidak dipisahkan dari fatwa
sahabat dan pendapat tabi’in, tetapi sudah ada pemisahan antara hadits-hadits
umum dengan hadits-hadits tafsir, sirah dan Maghazi.
Abad ke-II ini juga diwarnai dengan meluasnya
pemalsuan hadist yang telah ada semenjak masa Khalifah Ali bin Abi Thalib dan
menyebabkan sebagian ulama pada abad ke ini tergugah untuk mempelajari keadaan
para periwayat hadits, disamping pada waktu itu memang banyak periwayat yang
lemah. Pada abad ke II kegiatan telaah terhadap ahwal arruwah ( keberadaan para
periwayatan hadits) semakin di intensifkan.
Sedangkan pada abad ke-III H merupakan
masa penyaringan dan pemisahan antara sabda Rasulullah dengan fatwa sahabat dan
tabi’in. Masa penyeleksian ini terjadi pada zaman Bani Abbasiyah yakni masa Al
Ma’mun. Periode penyeleksian ini terjadi karena pada masa tadwin belum bisa
dipisahkan antara hadist Marfu’, Mauquf, dan Maqthu’, hadits dhoif ataupun
hadist yang Maudhu’masih tercampur dengan hadist yang shahih. Pada saat ini
pula mulai dibuat kaidah-kaidah dan syarat-syarat untuk menentukan apakah suatu
hadist itu shahih atau dhoif. Para periwayat hadist pun tidak luput dari
sasaran penelititian mereka untuk diteliti kejujuran, kekuatan hafalan, dan
lain sebagainya. Materi kodifikasi yang dibukukan pada abad ini dipisahkan
antara hadist Nabi, pendapat sahabat dan tabi’in, meskipun hadist-hadist yang
di himpun tidak diterangkan antara yang shahih, hasan dan dhoif. Para ulama
mengkodifikasikan hadist-hadist dalam kitab-kitab mereka dalam kadaan masih
tercampur antara ke tiga macam hadist tersebut. Mereka hanya menulis dan
mengumpulan hadist-hadist Nabi lengkap dengan sanadnya yang kemudian
kitab-kitab hadist hasil karya mereka disebut dengan istilah Musnad.[7]
2.6
Beberapa Penulis Hadits pada
abad II dan awal abad III H
Beberapa ulama yang menulis hadits pada abad II H dan awal abad III
H yaitu:
Ø Malik ibn Anas (93 – 179 H)
Ø Al-Awza’i (150 H)
Ø Muhammad ibn Ishaq (w. 151 H)
Ø Syu’bah ibn al-Hajjaj (w. 160 H)
Ø al-Laits ibn Sa’ad (w. 175 H)
Ø Sufyan ibn ‘Uyaynah (w. 198 H)
Ø al-Humaydi (w. 219 H)
Ø Abu Dawud Sulayman ibn Jarud al-Thayalisi (w. 204 H)
Ø Abu Bakr ‘Abd Allah ibn Zubayr al-Humaydi (w. 219 H)
Ø As’ad ibn Musa al-Umawi (w. 212 H)
Ø ‘Ubayd Allah ibn Musa al-‘Abbasi (w. 213 H)
Ø Musaddad al-Bashri (w. 228 H)
Ø Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H/885 M)
Ø Ishaq ibn Rawayh (161-238 H)
Ø Utsman ibn Abi Syaybah (156-239 H)
2.7
Beberapa Kitab Hadits pada abad ini
Beberapa kitab hadits pada abad II H yaitu:
Ø Kitab al-Muwaththa’
Ø Kitab al-Mushannaf
Ø Kitab al-Maghazi wa al-Siyar[8]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Rasulullah SAW benar-benar
memperhatikan, menggerakkan dan memberikan motivasi serta mensosialisasikan
baca tulis dikalangan sahabat. Hal itu terlihat jelas dalam sejarah perang
Badar, dimana usaha kearah itu beliau wujudkan dengan memutuskan orang-orang
kafir yang menjadi tawanan perang yang bisa membaca dan menulis dapat
memperoleh kebebasan dirinya dengan syarat, tiap-tiap satu orang tawanan harus
mengajar membaca dan menulis sampai mahir kepada sepuluh orang dari putra-putra
orang Islam di Madinah. Dan Rasulullah SAW juga mengangkat para penulis dari
kalangan sahabat untuk menulis ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan dan untuk
menulis surat-surat beliau yang dikirim kepada raja-raja untuk kepentingan
dakwah Islam.
Abu Bakar dan
Umar bin Khattab sangat berhati-hati dalam menerima hadits. Mereka tidak
menerima hadits jika tidak disaksikan benarnya oleh seorang yang lain. Akan
tetapi walaupun Abu Bakar amat ketat dalam periwayatan hadits,beliau tidak anti
terhadap penulisan hadits. Bahkan untuk kepentingan tertentu, hadits Nabi juga
di tulisnya. Umar bin Khattab terus menerus mempertimbangkan penulisan hadits,
padahal sebelumnya ia berniat untuk mencacatnya. Sikap kehati-hatian kedua
sahabat tersebut, juga diikuti oleh Ustman dan Ali. Dalam sebuah atsar
disebutkan bahwa Ali ra tidak menerima hadits sebelum yang meriwayatkan itu
disumpah.
Setelah Islam tersebar dan wilayah
Islam semakin luas (yakni ke sampai ke negeri Syam, Iraq, Mesir dan Samarkand),
tersiarlah bid’ah-bid’ah. Para sahabat terpencar di beberapa kota dan banyak
diantara mereka yang meninggal dunia dalam peperangan dan lain sebagainya, maka
hafalan dan daya ingatan terhadap hadits, hampir berkurang dan melemah. Keadaan
yang demikian menuntut adanya pembukuan dan penulisan hadits secara menyeluruh.
Oleh karena itu, pada abad pertama (100 H) Amirul Mu’minin Umar bin Abdul Aziz
mengirim surat kepada Gubernur Madinah (yakni Abu Bakar ibn Muhammad ibn Amr ibn
Hazmin). Selanjutnya, Umar bin Abdul Aziz memerintahkan kepada Abu Bakar ibn
Muhammad untuk menulis dan membukukan hadits-hadits yang ada pada penghafal
wanita yang terkenal yaitu Amrah binti Abdur Rahman bin Sa’ad Al-Anshariyah
(murid kepercayaan Siti Aisyah dan seorang yang ahli fiqh) dan hadits-hadits
yang ada pada Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar As-Shiddieq (seorang pemuka
tabi’in dan salah seorang fuqaha’ Madinah).
Menurut Al-Hakim masa thabaqat tabi’in
berakhir setelah orang yang bertemu
dengan sahabat yang terakhir meninggal dunia. Jadi, tabi’in terakhir
adalah orang yang bertemu dengan Abu
Thufail di Mekkah. As-Sa’ib diMadinah, Abu Umayyah di Syam,Ubaidillah bin Abi
Aufa di Kufah, dan Anas bin Malik di Basrah.
Abad ke-II ini juga diwarnai dengan meluasnya
pemalsuan hadist yang telah ada semenjak masa Khalifah Ali bin Abi Thalib dan
menyebabkan sebagian ulama pada abad ke ini tergugah untuk mempelajari keadaan
para periwayat hadits, disamping pada waktu itu memang banyak periwayat yang
lemah. Pada abad ke II kegiatan telaah terhadap ahwal arruwah ( keberadaan para
periwayatan hadits) semakin di intensifkan.
Beberapa ulama yang menulis hadits pada abad II H dan awal abad III
H yaitu:
Ø Malik ibn Anas (93 – 179 H)
Ø Al-Awza’i (150 H) dan lain-lain
Beberapa kitab hadits pada abad II H yaitu:
Ø Kitab al-Muwaththa’
Ø Kitab al-Mushannaf
Ø Kitab al-Maghazi wa al-Siyar
DAFTAR PUSTAKA
·
Prof Dr Muhammad Alawi Al-Maliki.Ilmu
Ushul Hadits.(Yogyakarta:Pusaka Pelajar,2006)
·
Drs. H.Mudasir.Ilmu Hadits.(Bandung:CV
Pustaka Setia,1999)
·
Khusniati Rafi’ah. Studi Ilmu
Hadits.(Yogyakarta:Stain PO Press.2010)
·
M Agus Salim dkk.Ulimul sHadits.(Bandung:CV
Pustaka Setia,2013)
·
Dr Subhi As-Shalih.Membahas Ilmu-Ilmu Hadits.(Jakarta:PT Pustaka Firdaus,2013)
·
Dr Idri M,Ag.Studi
Hadits.(Jakarta:Prenada Media Grup,2010)
[1] Prof Dr
Muhammad Alawi Al-Maliki.Ilmu Ushul Hadits.(Yogyakarta:Pusaka
Pelajar,2006) hal 14-15
[2] Drs. H.Mudasir.Ilmu
Hadits.(Bandung:CV Pustaka Setia,1999) hal 91-93
[4] Prof Dr
Muhammad Alawi Al-Maliki.Ilmu Ushul Hadits.(Yogyakarta:Pusaka
Pelajar,2006) hal 20-21
[5] M Agus Salim
dkk.Ulimul sHadits.(Bandung:CV Pustaka Setia,2013) hal 39-41
[6] Dr Subhi As-Shalih.Membahas Ilmu-Ilmu Hadits.(Jakarta:PT
Pustaka Firdaus,2013) hal 330
[7] Dr Idri M,Ag.Studi Hadits.(Jakarta:Prenada Media Grup,2010) hal 95-97

0 Komentar untuk "MAKALAH TADWIN AL-HADITS ABAD KE-1 SAMPAI AWAL ABAD KE-3"